Sabtu, 21 November 2009

Welcome In SimpangLima's BLogzz!!








Assalamu’alaikum WrWb,
Salam sejahtera untuk kita semua !
Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas rahmat-Nya lah blog “simpanglima2009.blogspot.com” (Simpanglima=Serikat Manusia Ipa NgLima) ini dapat terwujud. Sebagai partisipan aktif dalam penyelenggaraan pendidikan di negara ini, SMA N 1 Purwokerto harus menaruh perhatian lebih terhadap bidang ICT atau teknologi. Untuk itu, blog ini dibuat dan terus dikembangkan demi memenuhi tuntutan pendidikan zaman sekarang- walau tidak secara langsung. Blog ini bersifat shareable, atau difungsikan sebagai sarana untuk berbagi, mengisi dan melengkapi. Sesuai dengan asas demokrasi “dari siswa, oleh siswa, untuk siswa”. Setiap siswa berhak berperan aktif dalam blog ini. Setiap katanya adalah karya siswa, dan setiap hasilnya kelak adalah semata-mata karena siswa.
Kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung atau tidak langsung, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tanpa Anda, blog ini tidak akan begitu maksimal seperti yang diharapkan. Sekian dari kami.

Baca yukzz......

Rabu, 11 November 2009

SMANSA Bertaraf Internasional (?)


Semua orang tahu bahwa apapun yang telah berstandar/bertaraf internasional adalah brand jempolan. Tidak kecuali sekolah yang berstatus “Sekolah Bertaraf Internasional”, atau bahkan jika ada embel-embel “Rintisan” di depannya. Bertaraf artinya senada, setingkat dengan kelas internasional atau sesuai parameter yang telah ditentukan. SBI berarti sekolah berkarakteristik sebagai berikut :
1. Sudah terbiasa menggunakan Bhs. Inggris dalam kesehariannya (siswa & guru)
2. Disiplin moral, tingkah laku, dan KBM
3. Guru-guru bersertifikat dan kompeten sesuai BIDANGNYA
4. Fasilitas jempolan, baik infra atau suprastruktur.
5. Go Green, baik guru, siswa, karyawan, dan sekolah itu sendiri
6. Go Indonesian Cultures, dengan penjelasan kurang lebih sama dengan point 5
7. Transparansi, profesionalisme, dan independensi
8. Beberapa syarat di atas adalah tambahan penulis (tapi masih nyambung)
Pada tanggal 30 Oktober 2009 kemarin, tepatnya pada hari Jum’at, tim penilai dari badan standarisasi SBI pusat (atau apa namanya) berkunjung dan meninjau sekolah kita (baca : SMANSA) untuk uji kelayakan sebagai SBI. Beliau (salah satu dari tim penilai) adalah seorang wanita yang fasih berbahasa inggris, datang mengunjungi beberapa kelas dan menanyakan beberapa hal kecil dengan pengantar Bahasa Inggris. Hari itu, SMANSA terlihat sedikit lebih klimis dan berkualitas dari biasanya. Semua kelas rapi, semua ruang sekretariat bersih dan rapi, dan lebih banyak siswa menggunakan kaos kaki hitam. Oke, simple.
Kamis, 29 Oktober 2009. Jajaran guru SMANSA geger dan gelisah akan penilaian SBI ini. Hampir setiap guru membicarakan hal ini saat sedang mengajar, dan biasa, menghimbau siswa untuk bersikap lebih sopan, disiplin, dan sebagainya pada tanggal 30 Oktober 2009 (D-Day penilaian). Tata Tertib semakin ketat diberlakukan. Dari speaker masing-masing kelas terdengar berbagai pengumuman terkait penilaian SBI. Salah satunya, SISWA DILARANG UNTUK MEMBELI JAJAN DILUAR LINGKUNGAN SEKOLAH ATAU SEKEDAR MEBELI JAJAN PADA PENJAJA-PENJAJA DI SEKITAR PAGAR DEPAN SEKOLAH. Baik, toh sudah berlalu.
Rabu, 28 Oktober 2009 atau tepatnya sejak beberapa hari sebelumnya. Ruang guru direstorasi, dibersihkan, dan ditata sedemikian rupa hingga tampak seperti kantor-kantor pusat perusahaan di Jakarte sana. Arsip-arsip dibongkar kembali, yang tidak perlu : buang ; beberapa AC dipasang, dan kini, kita bisa lihat hasilnya.
Hari di mana Anda membaca tulisan ini. Apakah ada terasa perbedaan pada SMANSA walau hanya sedikit? Tak ada. Mungkin ini opini sepihak, tetapi ini mengandung kebenaran. Sekarang mari kita menjawab sedikit pertanyaan sebagai berikut :
1. Apa pada hari Jum’at tanggal 6 November 2009 Anda mengenakan kaos kaki hitam ?
2. Apa sepatu yang biasa Anda pakai untuk sekolah berwarna dominan hitam?
3. Seberapa sering Anda melihat lapangan tengah digunakan untuk futsalan saat jam KBM berlangsung?
4. Apa teman-teman dekat Anda mengenakan seragam dengan tidak sesuai norma kerapian dan kelengkapan? (baju keluar, celana model beggy dsb.)
5. Apa pada setiap persiapan upacara Anda langsung berbaris di lapangan?

Jawablah dalam hati dan renungkan. Untuk apa sekujur fasilitas jempolan jika yang menggunakan saja masih jempol kebalik? Bukan menghina, tetapi inilah kenyataannya! Jika kita mau dicap sebagai Sekolah Bertaraf Internasional, bersikaplah sebagai warga Indonesia yang baik, warga sekolah yang baik. Bertaraf internasional bukan untuk dibanggakan di kancah lokal. Bukan untuk menambah minat calon peserta didik kelak. Juga bukan untuk diperadu dengan SMA-SMA di sekitar SMANSA.Tetapi UNTUK BEKAL NAMA DI KANCAH INTERNASIONAL DENGAN PANJI MERAH PUTIH, BUKAN SMANSA. Betapa egoisnya kita jika hanya untuk kepentingan intern SMANSA. Hanya menjual kemunafikan demi sebuah embel-embel bertaraf internasional. Berpura-pura baik untuk sebuah label, lebih baik menunggu evolusi kualitas selama 10 tahun !
Sekarang mari kita lihat SMA Negeri 1 Purwokerto, our beloved school, apakah sudah layak untuk mendapat label SBI? Dan sekali lagi, apa tujuannya?sbrckp(akbar Simpang Lima)


"Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba blog SMAN 1 Puwokerto dan Menyongsong SMAN 1 Purwokerto menjadi SBI."

Baca yukzz......

Selasa, 10 November 2009

New Comer untuk Pecinta Sains


Siswa SMAN 1 Purwokerto dengan segala kesibukannya, mulai dari belajar, praktikum, ngerjain tugas, ulangan, ekskul dan seabreg kegiatan lainnya nggak menyurutkan semangat mereka untuk aktif dalam organisasi atawa klub di smansa. Dari sekian banyak organisasi klub di Smansa, mulai dari OSIS, organisasi berekstra (baca=yang ada ekstrakurikulernya) seperti Pramuka dan PMR, sampai yang bertitel klub. Apalagi siswa kelas XI yang lagi demen-demennya aktif di organisasi. Nggak percaya? Coba deh tanya aja ke salah satu dari “ikut organisasi apa saja?”, dijamin.. Jawabannya minimal 1 organisasi dia sebut, malah mungkin ada yang 4 atau 5 organisasi. Wuidiih..

Nah.. 1 lagi nih, klub yang akan meramaikan dunia politik smansa (ceilah..), that is…. COSTOVA (Club of Science Purwokerto Van Smansa). Kalo dilihat dari namanya, ngeri deh (hehe ). Pasti yang kebayang di kepala, COSTOVA tuh klub untuk para ilmuwan smansa (baca:para jenius dan siswa pembinaan olimpiade). Gimana nggak minder mau ikut klub tersebut? Eiitzz.. tunggu dulu, jangan ambil kesimpulan secepat itu. Let’s check the fact!
COSTOVA sebenarnya adalah klub yang dibentuk untuk menampung siswa-siswi smansa pecinta sains (meliputi: Matematika, fisika, kimia, biologi, dan astronomi). Siapapun yang berminat berhak join, nggak pandang bulu mulai dari yang ranking 1 (dari belakang, hhehe  pisszz ). Disini para siswa nantinya dapat saling sharing ilmu, seperti yang tersirat dari program kerja mereka mendiskusikan PR, tugas atau praktikum yang dirasa susah oleh siswa. Waduuuhh… asyikk dunk kalo gitu! Makanya jangan negative thinking dulu! Oh ya, selain itu COSTOVA juga aan nyediain contoh soal bagi mereka yang mau ikut olimpiade (kan butuh banyak latihan.. practice makes perfect).
Nah.. bagi siswa-siswi yang berminat, COSTOVA mengadakan 1st meeting mereka, agenda pembentukan kepengurusan pada hari senin (9 November 2009). Dijamin deh.. pasti banyak yang minat join, kan semua siswa smansa pecinta science. Selain itu, keikutsetaan kita dalam organisasi sangat berguna nantinya saat kita di perguruan tinggi dan terjun ke masarakat. Kenapa? Karena melalui organisasi, banyak ilmu yang kita peroleh seperti kepemimpinan, tanggung jawab, kerasama, dan sebagainya. Beruntung deh, SMAN 1 Purwokerto menyediakan banyak pilihan organisasi sesuai dengan minat dan bakat kita. Tetap semangat tuntut ilmu, baik akademis maupun nonakademis, ok?(bella)

"Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba blog SMAN 1 Puwokerto dan Menyongsong SMAN 1 Purwokerto menjadi SBI."

Baca yukzz......

Jangan Anggap Remeh Raport Bayangan

Nggak kerasa, udah setengah semester dijalani di tahun ajaran 2009/2010. Waktu memang terasa berjalan begitu cepat, bagi yang merasa waktu cepat (ya iyalaaahh,, wkk). UTS atau lebih dikenal dengan nama mid test memang sudah dilaksanakan. Remidial – remedial telah dilaksanakan pula bagi yang nilainya masih dibawah batas tuntas. Mau nggak mau, siswa – siswi SMA Negeri 1 Purwokerto harus siap menerima hasil kerja keras mereka (baca=mengerjakan PR, tugas, ulangan harian, UTS, dll), yang dibuang dalam selembar kertas dalam sebuah amplop bertitel RAPOR BAYANGAN.

Yups, pada tanggal 7 November yang lalu siswa – siswi smansa purwokerto sudah menerima rapor bayangan atau bisa juga disebut rapor tengah semester. Lho emang ada rapor tengah semester? Ada dong, di smansa mulai 2 tahun ajaran 2008/2009 diberlakukan sistem rapor bayangan. Rapor ini dikeluarkan oleh sekolah tiap tengah semester, untuk member informasi/laporan kepada orangtua/wali siswa perihal nilai siswa.

Jarang – jarang loh, ada sekolah yang memakai system ini. Kenapa ya.. Smansa ngelaksanain sistem rapor bayangan? Kalo dipikir-pikir nih, rapor bayangan sangat berguna untuk siswa. Dengan adanya rapor bayangan, kita.. bisa tahu mana mata pelajaran yang nilainya perlu kiya tingkatkan, dan mana yang harus dipertahankan.

Hati-hati dengan nilai yang tercantum di rapor bayangan kalian, bisa jadi itu nggak jauh dari nilai rapor semester kalian atau bisa juga jauh. Saran aja nih, kalau ada nilai menurut kalian masih kurang, jangan biarkan kesedihan dan rasa kecewa menenggelamkanmu. Come on! Bangkit dan berlarilah untuk dapat memperbaikinya, kamu masih punya waktu setengah semester lagi untuk mengejarnya. Dan kalau ada nilai yang udah bagus bukan lantas kamu boleh mengabaikan pelajaran itu. Bisa gawat kalau kamu melakukan itu, pasalnya nilai kamu otomatis akan turun. Nah… Biar nggak turun, jaga nilai tersebut dengan pola belajar yang sama. Insya Allah, nilai kalian akan baik semua di rapor yang sebenarnya.

Wah.. ternyata banyak manfaat yang bisa kita ambil dari pembagian rapor bayangan. Jadi, bagaimanapun rupa rapor bayangan kamu, apakah menakutkan atau indah.. tetap semangat belajar ya! Watch Out! Tak setiap bayangan persis dengan yang asli. Keep fighting guys! Ganbatte kudasai! Jia you! (bella)

"Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba blog SMAN 1 Puwokerto dan Menyongsong SMAN 1 Purwokerto menjadi SBI."

Baca yukzz......

Senin, 09 November 2009

EDUCATION


The character of Indonesia's educational system reflects its diverse religious heritage, its struggle for a national identity, and the challenge of resource allocation in a poor but developing archipelagic nation with a young and rapidly growing population. Although a draft constitution stated in 1950 that a key government goal was to provide every Indonesian with at least six years of primary schooling, the aim of universal education had not been reached by the late 1980s, particularly among females--although great improvements had been made. Obstacles to meeting the government's goal included a high birth rate, a decline in infant mortality, and a shortage of schools and qualified teachers. In 1973 Suharto issued an order to set aside portions of oil revenues for the construction of new primary schools. This act resulted in the construction or repair of nearly 40,000 primary school facilities by the late 1980s, a move that greatly facilitated the goal of universal education.

Primary and Secondary Education
Following kindergarten, Indonesians of between seven and twelve years of age were required to attend six years of primary school in the 1990s. They could choose between state-run, nonsectarian public schools supervised by the Department of Education and Culture or private or semiprivate religious (usually Islamic) schools supervised and financed by the Department of Religious Affairs. However, although 85 percent of the Indonesian population was registered as Muslim, according to the 1990 census, less than 15 percent attended religious schools. Enrollment figures were slightly higher for girls than boys and much higher in Java than the rest of Indonesia.
A central goal of the national education system in the early 1990s was not merely to impart secular wisdom about the world, but also to instruct children in the principles of participation in the modern nation-state, its bureaucracies, and its moral and ideological foundations. Since 1975, a key feature of the national curriculum--as in other parts of society--had been instruction in the Pancasila. Children age six and above learned its five principles--belief in one God, humanitarianism, national unity, democracy, and social justice--by rote and were instructed daily to apply the meanings of this key national symbol to their lives. The alleged communist coup attempt in 1965 provided a vivid image of transgression against the Pancasila. Partly to prove their rejection of communist ideology, all teachers--like other members of Indonesian bureaucracy--swore allegiance not only to the Pancasila, but to the government party of functional groups.
Inside the public school classroom of the early 1990s, a style of pedagogy prevailed that emphasized rote learning and deference to the authority of the teacher. Although the youngest children were sometimes allowed to use the local language, by the third year of primary school nearly all instruction was conducted in formal Indonesian. Instead of asking questions of the students, a standard teaching technique was to narrate a historical event or to describe a mathematical problem, pausing at key junctures to allow the students to fill in the blanks. By not responding to individual problems of the students and retaining an emotionally distanced demeanor, the teacher is said to be sabar (patient), which is considered admirable behavior.
Nationally, the average class size in primary schools was approximately twenty-seven, while upper-level classes included between thirty and forty students. Ninety-two percent of primary school students graduated, but only about 60 percent of those continued on to junior high school (ages thirteen through fifteen). Of those who went on to junior high school, 87 percent also went on to a senior high school (ages sixteen through eighteen). The national adult literacy rate remained at about 77 percent in 1991 (84 percent for males and 68 percent for females), keeping Indonesia tied with Brunei for the lowest literacy among the six member nations of the Association for Southeast Asian Nations (ASEAN).
In the early 1990s, after completion of the six-year primary school program, students could choose among a variety of vocational and preprofessional junior and senior high schools, each level of which was three years in duration. There were academic and vocational junior high schools that could lead to senior-level diplomas. There were also "domestic science" junior high schools for girls. At the senior high-school level, there were three-year agricultural, veterinary, and forestry schools open to students who had graduated from an academic junior high school. Special schools at the junior and senior levels taught hotel management, legal clerking, plastic arts, and music.
Teacher training programs were varied, and were gradually upgraded. For example, in the 1950s anyone completing a teacher training program at the junior high level could obtain a teacher's certificate. Since the 1970s, however, the teaching profession was restricted to graduates of a senior high school for teachers in a primary school and to graduates of a university-level education course for teachers of higher grades. Remuneration for primary and secondary school teachers compared favorably with countries such as Malaysia, India, and Thailand. Student-teacher ratios also compared favorably with most Asian nations at 25.3 to 1 and 15.3 to 1, respectively, for primary and secondary schools in the mid-1980s when the averages were 33.1 to 1 and 22.6 to 1 for Asian-Pacific countries.
The emphasis on the Pancasila in public schools has been resisted by some of the Muslim majority. A distinct but vocal minority of these Muslims prefer to receive their schooling in a pesantren or residential learning center. Usually in rural areas and under the direction of a Muslim scholar, pesantren are attended by young people seeking a detailed understanding of the Quran, the Arabic language, the sharia, and Muslim traditions and history. Students could enter and leave the pesantren any time of the year, and the studies were not organized as a progression of courses leading to graduation. Although not all pesantren were equally orthodox, most were and the chief aim was to produce good Muslims.
the modern, secular nation-state, the Muslim-dominated Department of Religious Affairs advocated the spread of a newer variety of Muslim school, the madrasa. In the early 1990s, these schools integrated religious subjects from the pesantren with secular subjects from the Western-style public education system. The less-than 15 percent of the school-age population who attended either type of Islamic schools did so because of the perceived higher quality instruction. However, among Islamic schools, a madrasa was ranked lower than a pesantren. Despite the widespread perception in the West of resurgent Islamic orthodoxy in Muslim countries, the 1980s saw little overall increase in the role of religion in school curricula in Indonesia.
In general, Indonesia's educational system still faced a shortage of resources in the 1990s. The shortage of staffing in Indonesia's schools was no longer as acute as in the 1950s, but serious difficulties remained, particularly in the areas of teacher salaries, teacher certification, and finding qualified personnel. Providing textbooks and other school equipment throughout the farflung archipelago continued to be a significant problem as well.

Higher Education
Indonesia's institutions of higher education have experienced dramatic growth since independence. In 1950 there were ten institutions of higher learning, with a total of 6,500 students. In 1970 there were 450 private and state institutions enrolling 237,000 students, and by 1990 there were 900 institutions with 141,000 teachers and nearly 1,486,000 students. Public institutions enjoyed a considerably better student-teacher ratio (14 to 1) than private institutions (46 to 1) in the mid-1980s. Approximately 80 to 90 percent of state university budgets were financed by government subsidies, although the universities had considerably more autonomy in curriculum and internal structure than primary and secondary schools. Whereas tuition in such state institutions was affordable, faculty salaries were low by international standards. Still, university salaries were higher than primary and secondary school salaries. In addition, lecturers often had other jobs outside the university to supplement their wages.
Private universities were operated by foundations. Unlike state universities, private institutions had budgets that were almost entirely tuition driven. Each student negotiated a one-time registration fee--which could be quite high--at the time of entry. If a university had a religious affiliation, it could finance some of its costs through donations or grants from international religious organizations. The government provided only limited support for private universities.
Higher education in the early 1990s offered a wide range of programs, many of which were in a state of flux. Nearly half of all students enrolled in higher education in 1985 were social sciences majors. Humanities and science and technology represented nearly 28 percent and 21 percent, respectively. The major degrees granted were the sarjana muda (junior scholar; roughly corresponding to a bachelor's degree) and the sarjana (scholar or master's degree). Very few doktor (doctoral) degrees were awarded. Few students studying for the sarjana muda actually finished in one to three years. One study found that only 10 to 15 percent of students finished their course of study on time, partly because of the requirement to complete the traditional skripsi (thesis). In 1988, for instance, 235,000 new students were admitted for sarjana muda-level training and 1,234,800 were enrolled at various stages of the program, but only 95,600 graduated.
Discussion about how to improve Indonesian higher education focused on issues of teacher salaries, laboratory and research facilities, and professor qualifications. According to official figures, in 1984 only 13.9 percent of permanent faculty members at state institutions of higher learning had any advanced degree; only 4.5 percent had a doctorate. Since doctoral programs were rare in Indonesia and there was little money to support education overseas, this situation improved only slowly. Despite these difficulties, most institutions of higher education received large numbers of applications in the late 1980s and early 1990s; in state institutions less than one application in four was accepted. One of the most serious problems for graduates with advanced degrees, however, was finding employment suited to their newly acquired education.
The University of Indonesia, founded in Jakarta in the 1930s, is the nation's oldest university. Other major universities include Gadjah Mada University (Indonesia's oldest postindependence university, founded in 1946) in Yogyakarta; Catholic University and Institut Teknologi Bandung, both in Bandung; and the Institut Pertanian Bogor in Bogor. In the early 1990s, there also were important regional universities in Sulawesi, Sumatera Utara, Jawa Barat, and Irian Jaya. (by salsabila xi ia5)


"Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba blog SMAN 1 Puwokerto dan Menyongsong SMAN 1 Purwokerto menjadi SBI."

Baca yukzz......

Minggu, 08 November 2009

PUISI


1. Tentang Persahabatan


Ini bukan mengenai kesamaan yang dari dulu kita miliki
Bukan….
Ini semua mengenai betapa berbedanya kita…
Aku tak sama dengannya
Dia juga tak sama dengan mereka…
Sekali lagi ini bukan masalah apa yang kita samakan
Semua yang berbeda dalam diri kita yang membuat kita tercipta begitu beragam
Sama seperti persahabatan
Bukan tentang seberapa dewasanya dia untuk mempunyai seorang sahabat
Melainkan seberapa berartinya dia untuk orang lain di saat tiada lagi orang yang mengharapkan dia ada
Bukan tentang seberapa sering mereka berkumpul bersama untuk membicarakan kekompakan mereka

Seberapa besar waktu yang mereka miliki untuk saling bertukar cerita dan kasih sayang setiap detik
Atau segala sesuatu hal yang terlihat sama dimuka orang lain untuk memperlihatkan persahabatan mereka
Bukan itu
Ini semua mengenai persahabatan yang mengenal satu sama lain bukan dari keberadaannya disisi mereka
Tapi semua mengenai seberapa dalam dia mencintai mereka tanpa harus menunjukkannya
Mungkin tak kan seseorang yang sesempurna itu
Bahkan dalam bercerita pun tak semua orang menganggap itu kisah yang menarik
Namun dari sanalah arti persahabatan yang sesungguhnya terpetik
Bukan dari seberapa besar yang sudah ia berikan
Tapi dari sebagaimana setianya dia di saat kita terjatuh
Akankah dia ikut bersama kita ataukah dia bertahan untuk mengulurkan tangan dan membantu kita
Disanalah pilihan itu berada
Sudah pantaskah ia kita sebut sahabat jika ada yang baru menggantikan kehadiran mereka di hatinya?
Katakan saja jika dia memang pantas disebut sahabat
Lalu kemana dia saat kita terantuk kerikil pasir di tengah badai gurun yang menggelapkan pandangan
Yang terlihat selama ini hanyalah saat kita terjatuh ke dalam jurang yang memisahkan dua dunia, bukan saat kecil yang membuat kita hanya terjatuh lemas
Bercermin sendiri pun kita susah
Tak perlu terlalu repot menilainya
Untuk menilai diri kita, kita belum sanggup
Bahkan untuk mengucap kata syukur dan terima kasih, kita harus rela melakukan sesuatu yang tak berarti bagi orang lain
Sudahkah kita mengenali diri kita?
Atau sudahkah kita mengenali sahabat kita?
Sudah pantaskah kita disebut sahabat?
Atau sudah pantaskah mereka bersahabat dengan kita?
Hanya kita yang tahu apa yang tebaik dan terbenar untuk dan dari kita, bukan penilaian mereka…

2. Untuk Sang Bulan
Bulan menangis lagi
Padahal kembarannya tengah tersenyum dengan indah
Aku bingung
Adakah yang salah dengan kehidupan Sang Bulan?
Dia memendam semuanya
Semua selalu dia sembunyikan
Senyum, tawa, dan pujian darinya pun hanya pura-pura

Bukan atas hatinya
Sering aku melihat dia meratap
Bukan karena bahagia, tapi lebih karena sedunya
Dia pernah berkata ingin tinggalkan semua yang nyata
Tapi siapa yang akan jadi penerang malamku jika ia pergi?
Meski bulan jarang tertatap pelupuk mata, setidaknya ada hati yang berharap selalu kembali
Pernah kulihat dia menangis
Sungguh aku ingin gantika letaknya jika kau bisa
Mungkin aku selalu salah karena aku memang bukan Yang Paling Sempurna
Aku hanya Bintang yang selalu ingin menemaninya
Di saat ia tengah purnama dan saat ia tak kasat mata
Aku tau Sang Matahari yang selalu berkuasa
Hingga dia hanya mengabulkan apa yang langit minta
Kasihan Bulan
Aku ingin tersenyum dan menangis untuk canda tawanya....

3. Duka dalam negeriku
Aku berdiri masih dalam peluk hangat dunia fana
Bukan sebagai pahlawan atau sebagai pengharum bumi pertiwi
Aku berdiri masih selayaknya manusia yang tumbuh dengan segala rasa penasaran dan iba
Aku ingin aku bisa berdiri sendiri
Nyatanya semua tak semudah yang dibayangkan bagiku
Aku ada dalam bayang semu
Tak berwujud, tak berujung, dan tak berliku
Aku hanya belaian kasar yang berhembus dengan kelembutan
Tapi aku belum dapat terbangun
Dan aku kembali beranjak
Kali ini bukan sebagai kelembutan
Namun sedikit getar perlahan
Aku menggeliat membangun di dalam tubuhku
Hanya gerakan tak berarti bagiku
Namun aku sungguh tertegun
Semua milikku tak lagi kulihat utuh
Luluh rata segaris dengan tanah
Aku terbuat dari tanah
Dan aku yakin semua yang kumiliki suatu saat kelak akan kembali ke asalnya
Kecuali Dia yang memang tertakdir untuk hidup kekal
Tak ada lagi yang bisa kubawa dan kuselamatkan
Semua sudah terlambat
Hanya ada aku dan diriku yang sekarang
Berusaha bangkit dalam kesakitan dan keterpurukan dalam jurang kepedihan
Mengharap uluran tangan kecil yang setidaknya peduli dengan keadaanku yang sekarang...
(nindya xi ia5)

Baca yukzz......

Sabtu, 07 November 2009

2012 ?!


Dunia dibuat geger akan hadirnya pendapat beberapa peneliti dan suku MAYA bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2012.
Rakyat seantero jagad raya geger, dan orang-orang awam yang tidak mengetahui akan gosip yang menggemparkan ini lingling. beberapa orangpun khusuk beribadah, dan yang lain sibuk mencari hal hal yang baru yang belum pernah ia coba sebelumnya di dunia, dan tidak peduli akan adanya Tuhan yang mengawasi mereka di setiap saat.
Surat kabar, Film, dan Buku-bukupun heboh dan hampir semua membuat tema tentang KIAMAT 2012. Seakan-akan Berita ini menjadikan Keuntungan bagi mereka yang bergelut di dunia Bisnis entertaining.
sebenarnya berita-berita itu hanya untuk mendorong populeritas dan untuk ajang mencari uang. Suku Maya sebenarnya tidak meramalkan begitu, Suku Maya hanya berkata, bahwa Suku Maya tidak pernah mengatakan bahwa dunia akan berakhir, mereka juga tidak pernah mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Jadi,
Apakah Anda semua tahu akan Fakta-Fakta yang ada di balik semua ini?
Ataukah Anda hanya dengar dari hembusan hembusan angin di sekitar anda?(SindtA. xi ia5)

Baca yukzz......

Jumat, 06 November 2009

Mencegah Virus VBS berkembang Biak

Virus VBS atau yg lebih dikenal dgn “visual basic script” dapat ditulis dgn program yg sangat
sederhana seperti “notepad”, namun akibat yg dihasilkan virus ini “lumayan luar biasa”…
Untungnya ada trik sederhana yg dapat mencegah virus .vbs ini berkembang biak
dikomputer kita, ikuti langkah dibawah ini:

-------------------Start------------------

· Buka my computer - tools - folder options
· Klik tab file types, scroll kebawah, cari extensi “vbs

· Ubah default program yg digunakan untuk membuka file .vbs dgn mengklik tombol
change“ (lihat gambar)
· Kita akan melihat bahwa program yg direkomendasikan untuk membuka file .vbs adalah
Microsoft (r) Windows Based Script Host, ubah hal tersebut, scroll sedikit ke bawah, cari
notepad” dan klik OK

Dengan mengubah setingan diatas, setiap kali kita mengklik/membuka file .vbs, script virus yg ditulis didalam file .vbs tidak akan langsung dijalankan, melainkan akan ditampilkan oleh notepad. Dan tentunya file tersebut tidak akan menginfeksi komputer kita …

Cara yg lebih extreme adalah dgn menghapus asosiasi file.vbs, caranya sama spt diatas, hanya saja saat kita menemukan asosiasi file .vbs bukan kita ubah asosiasinya dgn mengklik tombol change, tetapi dgn mengklik tombol “delete”, dgn begitu setiap kali kita mengklik file .vbs, akan muncul kotak “open with” untuk memilih program yg akan dipakai untuk membuka file .vbs tsb…

Semoga berguna …

-------------------End------------------

Baca yukzz......

Kamis, 05 November 2009

Futsal SMANSA


Futsal adalah olah raga mirip dengan sepak bola.Namun Futsal berbeda dengan sepak bola.Futsal menggunakan lapangan yang lebih kecil, pemain yang hanya lima orang serta waktu pertandingan yang relatif lebih singkat dari sepak bola. Futsal berasal dari kata Futbol atau Futebol ( dari bahasa spanyol atau Portugal yang sepak bola ) dan sala atau salon ( dari bahasa Perancis atau Spanyol yang berarti dalam ruangan ).Secara resmi FIFA menyebut Futsal pertama kali dimainkan di Montevido, Uruguay tahun 1930.Saat itu, Juan Carlos Cereani memperkenalkan pertandingan sepak bola lima melawan lima untuk kompetisi remaja, yang dilakukan dilapangan basket serta tidak menggunakan dinding pembatas sehingga bola bisa keluar lapangan.Pada awalnya Futsal tidak memiliki aturan tertentu.Namun, di dalam perkembangannya Futsal memiliki aturan tertentu.Pertauran itu awalnya ditetapkan atas kesepakatan petinggi sepak bola Brazil tahun 1936.Peraturan ini bersifat tidak resmi.Selanjutnya, badan sepak bola dunia FIFA mengeluarkan peraturan resmi dan baku Futsal.


Olah raga Futsal merupakan olah raga yang saat ini paling populer di kalangan anak SMANSA. Apa yang anda lihat di lapangan ketika istirahat berlangsung?jawabannya pasti anak-anak yang sedang maen FUTSAL. Entah kelas X, XI, dan juga XII( Padahal mau ujian ). Tak cuma istirahat, waktu jam kosongpun diisi dengan FUTSALan. Tak heran, guru2 yang sedang mengajar pada mengeluh keganggu, dan lapor ke kesiswaan. Cuman buat nyaranin nih, klo jam kosong berhati-hatilah. Karena ada guru yang rajin menyita bola, yaitu Pak Eko dan Pak Samsyuri. Waspadalah!

Di SMANSA, ada 2 kompetisi rutin diadakan( yang 1 ilegal tapi), yaitu SFL(SMANSA FUTSAL LIGA) dan COPA SMANSA (ILEGAL). SFL biasanya yang paling di tunggu oleh anak2. Setiap kelas wajib mengikuti kompetisi ini. Tapi yang aneh, pemainnya bukan 5,tapi 6.Padahal futsalkan 5 V.S 5. Dikarenakan lapangan yang dipakai buat kompetisi lebih besar,di banding lapangan futsal biasanya. SFL mencetak sejarah baru(wuiss), 2x juara beruntun. Yaitu kelas XI&XII IA 6. Kompetisi yang kedua (COPA SMANSA), diadakan pada akhir tahun, yang pesertanya hanya kelas X dan XI. Cz kelas XIIna pada sibuk nyari tempat kuliahan. Kompetisi ini baru berjalan sekali, tetapi INSYAALLAH rutin kedepannya. Juara pertamanya di raih oleh kelas XI IA 3(Sekarang kelas XII),dan juara keduanya dari kelas X, yaitu X-9. Top Scorenya HVR dari kelas X-9.

Klo berbicara di luar Sekolah, SMANSA pernah mengikuti kompetisi kompetisi di luar yang bisa dibilang hasilnya cukup memuaskan dan membanggakan. Yang pertama, Radar Banyumas Cup. SMANSA yang di pegang oleh Mas Anjar, berhasil menunjukan kehebatannya. Yaitu dengan juara 3. Pemain yang mengikuti kompetisi ini adalah Irwin(Kapten), Sunu, Ilham, Dedo, Fikri,Yayas, Yoga, Makinu, Odi, Asid, Bayu. Yang kedua, yaitu BUPATI CUP, SMANSA berhasil mendapatkan Juara Pertama. Saat itu, SMANSA di Manajeri oleh Martin,yang dulunya alumni SMANSA. SMANSA mengadakan perombakan. Pemain yang masuk dalam daftar, yaitu Irwin(Kapten), Sunu, Ilham, Jongir, Odi, Dedo, Fikri, Yoga, Makinu, dan Korsom. Mulai tahun ajaran baru ini, SMANSA sudah pernah 1x mengikuti kompetisi yaitu di PH Futsal. SMANSA pulang dengan tangan kosong. selah lolos di babak penyisihan, SMANSA kalah di babak Knock Out. Manajernya masih Martin. Pemain yang ikut bertanding Irwin, Sunu, Ilham, Asid, Galih, Yoga, Ophe, Esa.

Dengan semakin maraknya olah raga FUTSAL di SMANSA, semoga SMANSA menemukan dan menghadirkan pemain-pemain berkualitas yang bisa menjadikan SMANSA no. 1 di kancah FUTSAL se-Banyumas. Maju terus FUTSAL SMANSA!!!(Asid simpanglima)

"Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba blog SMAN 1 Puwokerto dan Menyongsong SMAN 1 Purwokerto menjadi SBI."

Baca yukzz......

Rabu, 04 November 2009

GPS System to see who are Online

Maaf klik kiri dan kanan kami disable untuk keamanan kami, untuk kenyamanan anda menggunakan gps ini silahakan double klik pada gambar.. Terimakasih




Baca yukzz......